I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan hama dan penyakit pada tanaman merupakan salah
satu kendala yang cukup rumit dalam usaha pertanian. Keberadaan hama dan
penyakit merupakan factor yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan
pembentukan hasil. Serangannya pada tanaman dapat datang secara mendadak dan
dapat bersifat eksplosif (meluas) sehingga dalam waktu yang relative singkat
seringkali dapat mematikan seluruh tanaman dan menggagalkan panen.
Pengelolaan hama dan penyakit secara total tidak mungkin
dapat dilakukan karena perkembangannya yang sangat cepat dan sulit dikontrol.
Namun dengan pengamatan yang baik di lapangan sejak awal penanaman sampai penen,
serangan hama dan penyakit dapat ditekan.
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah binatang yang
dianggap dapat mengganggu atau merusak tanaman dengan memakan bagian tanaman
yang disukainya. Misalnya serangga (insekta), cacing (nematode), binatang menyusui,
dan lain-lain. Kerusakan tersebut dapat menimbulkan kerugian baik dari segi
kualitas ataupun kuantitas panen, sehingga merugikan secara ekonomi.
Pada pengendalian hama secara biologi, kimiawi, mekanis,
dan varietas tahan dapat dilakukan secara terpadu yaitu memadukan cara
biologis, kimiawi, mekanis, dan varietas tahan secara berimbang. Pengendalian
secara terpadu ini dikenal dengan nama Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Pengendalian Hama Terpadu sangat baik dilakukan karena
dapat memberikan dampak positif, baik pengendalian hama dan pathogen maupun
terhadap lingkungan. Pengendalian hama dan penyakit secara kimiawi memeang
lebih efektif dibandingkan dengan pengendalian secar biologis, mekanis, serta
varietas tahan. Tetapi ternyata menimbulkan residu efek terhadap lingkungan,
yakni pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan akibat penggunaan bahan
kimia tersebut dapat berdampak terhadap unsure-unsur biologis, yaitu musnahnya
organism lain yang bukan sasaran, misalnya hewan-hewan predator, hewan-hewan yang
dapat membantu penyerbukan.
Konsep pengendalian hama
terpadu lebih efektif dan efisien, serta memberikan dampak negative yang
sekecil mungkin terhadap lingkungan hidup. Keuntungan lain dari penerapan
konsep pengendalian hama terpadu adalah menghemat biaya.
1.2 Tujuan
Adapun
tujuan dari praktikum kali ini adalah agar praktikan mengetahui dan memahami
fluktuasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) serta melaksanakan metode
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) secara tepat.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Organisme pengganggu tanaman atau sering disingkat OPT, merupakan
organisme-organisme yang dapat merusak tanaman baik secara langsung ataupun
tidak langsung. Kerusakan tersebut dapat menimbulkan kerugian baik dari segi
kualitas ataupun kuantitas panen, sehingga merugikan secara ekonomi. Untuk
menghindari kerugian karena serangan OPT, tanaman harus dilindungi dengan cara
mengendalikan OPT tersebut. Dengan istilah "mengendalikan", OPT tidak
harus diberantas habis. Dengan usaha pengendalian populasi atau tingkat
kerusakan karena OPT ditekan serendah mungkin sehingga secara ekonomis tidak
merugikan (Djojosumarto, 2004).
Hama merupakan suatu organisme yang mengganggu tanaman, merusak tanaman
dan menimbulkan kerugian secara ekonomi,membuat produksi suatu tanaman
berkurang dan dapat juga menimbulkan kematian pada tanaman,serangga hama
mempunyai bagian tubuh yang utama yaitu caput, abdomen ,dan thorax.Serangga
hama merupakan organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan
mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi.
Hama dari jenis serangga dan penyakit merupakan kendala yang dihadapi
oleh setiap para petani yang selalu mengganggu perkembangan tanaman budidaya
dan hasil produksi pertanian. Hama dan
penyakit tersebut merusak bagian suatu tanaman, sehingga tanaman akan layu dan
bahkan mati (Harianto, 2009).
Hama merupakan semua serangga maupun binatang yang aktifitasnya
menimbulkan kerusakan pada tanaman sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan
perkembangan tanaman menjadi terganggu dan berdampak pada kerugian secara
ekonomis.Serangga terbagi dalam beberapa ordo sesuai dengan ciri khas
masing-masing, diantaranya berdasarkan tipe mulut yang terbagi atas tipe mulut
menggigit, mengunyah, menjilat, menusuk, mengisap, menggerek (Rioardi, 2009).
Hama dalam arti luas adalah semua bentuk
gangguan baik pada manusia,ternak dan tanaman. Pengertian hama dalam arti
sempit yang berkaitan dengan kegiatan budidaya tanaman adalah semua hewan yang
merusak tanaman atau hasilnya yang mana aktivitas hidupnya ini dapat
menimbulkan kerugian secara ekonomis. Adanya suatu hewan dalam satu pertanaman
sebelum menimbulkan kerugian secara ekonomis maka dalam pengertian ini belum
termasuk hama. Namun demikian potensi mereka sebagai hama nantinya perlu
dimonitor dalam suatu kegiatan yang disebut pemantauan (monitoring). Secara
garis besar hewan yang dapat menjadi hama dapat dari jenis serangga, moluska,
tungau, tikus, burung, atau mamalia besar. Mungkin di suatu daerah hewan
tersebut menjadi hama, namun di daerah lain belum tentu menjadi hama (Dadang,
2006).
2.2 Agas (Culicoides sp)
Agas adalah serangga yang termasuk dalam ordo Diptera jadi termasuk
dalam keluarga lalat, yang mempunyai sepasang sayap dan ukuran tubuhnya lebih
kecil dari nyamuk. Sampai saat ini baik gnat maupun “midge” untuk sementara
keduanya masih diterjemahkan menjadi agas dalam bahasa Indonesia walaupun
sebenarnyaperbedaan antara gnat dan midge sangat prinsip yaitu habitat
larvanya. Klasifikasi Agas (biting midges)
yaitu:
Kingdom : Animalia
Clade
: Euartrhropoda
Class
: Insecta
Ordho : Diptera
Family : Ceratopogonidae
Genus
: Culicoides
Larva gnat hidup di dalam tanah berbentuk larva agas sedangkan larva
midge hidup dalam air berbentuk mirip dengan jentik tetapi segmentasi tubuhnya
lebih jelas. Kedepannya untuk kejelasan dalam mengkomunikasikan, secara lisan
maupun tertulis, midge perlu mempunyai padanan sendiri dalam bahasa Indonesia
mengingat cakupan istilah agas terlalu besar. Beberapa hal masih rancu
hubungannya dengan agas, misalnya agas dalam famili Sciaridae umumnya disebut
agas jamur atau lebih spesifik disebut agas jamur bersayap hitam. Agas jamur
bersayap hitam dengan warna badan bervariasi, dari abu-abu sampai hitam dan
kombinasi hitam-kuning dan lainnya.
Sciara thomae berbadan hitam dengan garis kuning disisi
samping badan dan bersayap hitam. Agas Sciara
thomae dewasa hidup selama seminggu dan bertelur 100-150 butir telur dengan
masa stadia telur 3-4 hari serta masa stadia larva 8-14 hari. Diantara genus Sciara yang lain yang tersedia
informasinya sampai saat ini adalah Sciara analis, merupakan agas dengan badan
berwarna kuning pada bagian ventral dan bersayap hitam serta pupanya berwarna
kuning.(Brues,1951).
Larva agas pada saat melakukan migrasi
bergerak bersama dalam kelompok besar atau sering disebut pada saat bergerak
bersama-sama kelihatan seperti rombongan pasukan yang sedang bergerak ke suatu
tempat atau kelihatan seperti ular yang terdiri dari gabungan larva-larva atau
kelihatan seperti sungai ular dan kenampakan lainnya yang banyak menyebabkan
orang merinding. Kemampuan serangga melakukan tindakan berkumpul bersama dalam jumlah
besar menunjukkan bahwa serangga itu mempunyai feromon agregasi (Bengtsson,
2008).
2.3 Lalat Buah (Bactrocera sp)
Lalat Buah Bactrocera
sp. termasuk ke dalam famili Tephritidae yang merupakan famili dengan jumlah
terbesar dari ordo Diptera. Famili ini terdiri dari 4000 spesies yang terbagi
dalam 500 genus. Klasifikasi lalat buah (Bacrocera
sp) yaitu:
Kingdom
: Animal
Phyllum :
Invertebrata
Class
: Insecta
Ordo
: Diptera
Family
:
Tephritidae
Genus
: Bactrocera
Species :
Bactrocera carambolae (Drew & Hancock,1994)
Lalat buah Bactrocera sp ini biasa ditemukan pada daerah tropis maupun
subtropis dan hidup kosmopolitan hampir di seluruh belahan dunia kecuali
Antartika. Lalat buah Bactrocera sp. banyak dijumpai di Indonesia (Jawa,
Sumatera, dan Timor), Malaysia, Thailand, dan bagian Asia lainnya seperti
Myanmar dan Srilangka. Lalat buah ini juga banyak dijumpai di daerah Guyana,
Amerika Selatan dan juga di Daerah Suriname.
Daur hidup lalat buah secara umum
bervariasi pada tiap spesies dengan tanaman inang yang berbeda-beda. Daur hidup
berbagai spesies lalat buah disajikan oleh White & Elson-Harris (1992) pada
Tabel 2.1 di bawah ini:
Tabel 2.1 Daur Hidup berbagai Spesies Lalat Buah (Bactrocera sp)
|
Spesies Lalat Buah
|
Daur Hidup (Hari)
|
|
Anastrepha fraterculus
|
36-56
|
|
Anastrepha ludens
|
23-72
|
|
Bactrocera cucurbitae
|
12-31
|
|
Bactrocera dorsalis
|
20-85
|
|
Bactrocera oleae
|
22-28
|
|
Bactrocera tyroni
|
19-40
|
|
Ceratitis capitata
|
14-26
|
Serangan dari lalat buah ini
dapat meningkat pada daerah yang memiliki iklim yang sejuk dengan kelembaban
relatif tinggi dan kondisi angin yang tidak terlalu kencang. Curah hujan juga
mempengaruhi tingkat serangan dari lalat buah ini dimana curah hujan yang
tinggi menimbulkan pertumbuhan populasi yang tinggi pula. Gejala serangan lalat
buah ini biasanya berupa noda-noda kecil bekas tusukan pada buah yang
menimbulkan bercak coklat dan lubang di sekitar buah. Banyaknya jamur dan
bakteri yang hidup sekitar lubang tersebut makin mempercepat proses pembusukan
buah sehingga buah tersebut gugur sebelum waktunya (Putra,1997).
Musuh alami dari lalat buah terdiri dari tiga kelompok yaitu parasitoid,
predator, dan mikroorganisme patogen. Tahapan hidup dari lalat buah yang paling
rawan diserang oleh musuh alami ini adalah pada saat tahapan instar akhir,
pupa, dan imago yang baru keluar. Telur dan larva instar awal cenderung
terlindungi dari serangan musuh alami karena masih berada dalam buah. Akan
tetapi, ternyata telur dan larva instar awal juga dapat terkena serangan dari
parasitoid, tungau dan mikroorganisme patogen (Artayasa,1999). Sebagian besar
larva dan pupa dari lalat buah ini diserang oleh parasitoid dari ordo
Hymenoptera khususnya famili Braconidae tetapi ada juga serangga lain yang
menyerang dari famili Chalcididae. Predator lalat buah ini biasanya berasal
dari ordo (Hymenoptera:Formicidae) yaitu semut dan serangga dari famili
Carabidae dan Staphinidae (Coleoptera), Chrysopidae (Neuroptera), dan
Pentatomidae (Hemiptera). Mikroorganisme patogen ini terdiri dari jenis bakteri
dan jamur dimana Penicillium dan Seratia dari jenis bakteri dan Mucor dari
jenis jamur (Bateman, 1972).
2.4 Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah suatu
cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan
pada pertimbangan ekologi dan efesiensiekonomi dalam
rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan. PHT merupakan
perpaduan beberapa teknik pengendalian hama yang dalam penerapannya harus
memperhitungkan dampaknya baik secara ekologi, ekonomi maupun sosiologi sehingga
secara keseluruhan diperoleh hasil yang terbaik (Hidayat, 2001).
Falsafah pengendalian hama yang harus
digunakan adalah Pengendalian hama Terpadu (PHT) yang dalam implementasinya
tidak hanya mengandalkan satu taktik pengendalian saja. Taktik pengendalian
yang akan diuraikan antara
lain :
2.4.1
Pengendalian
Mekanik
Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk
menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman.
Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual. Mengambil hama yang
sedang menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibatkan tenaga manusia telah banyak dilakukan oleh banyak
negara pada permulaan abad ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang
masih banyak dilakukan di daerah-daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif
murah.
Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di
Australia adalah mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang
menyerang tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di
Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa sp.
Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke sawah untuk
mengambil dan mengumpulkan ulat-ulat yang berada di pucuk tembakau. Ulat yang
telah terkumpul itu kemudian dibakar atau dimusnahkan.
2.4.2
Pengendalian
Fisik
Pengendalian ini dilakukan dengan cara
mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama,
sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk
hidup.Bahan-bahan simpanan sering diperlakukan dengan pemanasan (pengeringan) atau pendinginan. Cara ini
dimaksudkan untuk membunuh atau menurunkan populasi hama sehingga dapat
mencegah terjadinya peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di
tempat yang kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati
lemas oleh karena CO2 dan nitrogen.
Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula
dimasukkan dalam pengendalian fisik;karena cara-cara tersebut dapat menyebabkan
kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga. Untuk
mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan penggenangan karena tanah yang
mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari partikel tanah. Dengan
hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda tidak dapat hidup
lebih lama.
2.4.3
Pengendalian
Hayati
Pengendalian hayati adalah pengendalian hama
dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen)
yang mampu menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau
mempunyai sejumlah musuh-musuh alami. Tersedianya banyak makanan dan tidak
adanya agen-agen pengendali alami akan menyebabkan meningkatnya populasi hama.
Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang
tidak tepat sehingga dapat membunuh musuh-musuh alaminya. Sebagai contoh,
meningkatnya populasi tunggau di Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan
DDT.
2.4.4
Pengendalian
Secara Kultur Teknik (Cultural Control)
Pada
prinsipnya yang termasuk dalam pengendalian secara kultur teknik adalah
cara-cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk menekan
perkembangan populasi hama.
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu tentang Fluktuasi
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dilakukan pada Rabu, 12 September 2018 pukul
15.20-17.00 WIB sampai dengan Rabu, 10 September 2018 pukul 15.20-17.00 WIB di
Laboratorium Kesehatan Tanaman I Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Jawa Timur.
3.2 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu papan kuning (trap), botol
bekas, suntik, tali rafia, kantong plastik, kertas, pena, mikroskop, dan kaca
pembesar.
3.3 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu methyl eugenol, vaselin
(perangkap), kapas, dan air.
3.4 Cara Kerja
3.4.1 Trap Kuning
Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan di
lapang seperti papan kuning (trap), kertas, pena, dan vaselin (perangkap).
Papan kuning (trap) di pasang di lahan yang akan diamati dengan cara
menancapkan papan pada tanah di lahan tersebut. Mengoleskan vaselin (perangkap)
pada papan trap yang berwarna kuning secara merata. Papan kuning (trap) diamati
dengan interval waktu 1 minggu. Hal yang diamati pada minggu pertama adalah
berapa banyak organisme yang terperangkap di trap ini. Jika terdapat organisme
yang populasinya lebih banyak daripada organisme yang lain maka organisme yang
lebih banyak tersebut diamati fluktuasinya selama 4 minggu. Mencatat jumlah
organisme yang diamati pada hasil pengamatan dan mengulasnya pada pembahasan.
3.4.2 Methyl Eugenol
Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan di lapang seperti botol bekas,
suntik, tali rafia, kantong plastik, kertas, pena, kapas, air, dan methyl
eugenol. Botol bekas dilubangi pada sisi yang berbeda atau berlawanan (jangan
terlalu banyak lubang yang dibuat, kurang lebih 4-6 lubang saja). Mengisi botol
dengan air kurang lebih ¼ bagian dari botol. Mengikat kapas dengan tali rafi
kemudian dimasukkan ke dalam botol dan disesuaikan panjang talinya (diusahakan
kapas tidak mengenai air, bahkan sampai terendam air). Menyuntikkan cairan
methyl pada kapas secara merata pada setiap sisinya. Trap methyl eugenol
diamati dengan interval waktu 1 minggu. Hal yang diamati pada minggu pertama
adalah berapa banyak organisme yang terperangkap di trap ini. Jika terdapat
organisme yang populasinya lebih banyak daripada organisme yang lain maka
organisme yang lebih banyak tersebut diamati fluktuasinya selama 4 minggu.
Mencatat jumlah organisme yang diamati pada hasil pengamatan dan mengulasnya
pada pembahasan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Trap
Kuning
Pengamatan pada Trap kuning dilakukan selama
empat minggu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada minggu pertama terdapat 6
ekor Agas yang terperangkap, pada minggu kedua terdapat 19 ekor Agas yang
terperangkap, pada minggu ketiga terdapat 21 ekor Agas yang terperangkap, dan pada
minggu keempat terdapat 12 ekor Agas yang terperangkap. Data Agas selama empat
minggu disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Trap Kuning
|
NO
|
WAKTU
|
HAMA
|
JUMLAH
|
|
1.
|
Minggu I
(Senin, 17 September 2018)
|
Agas
(Culicoides
sp)
|
6
ekor
|
|
2.
|
Minggu II
(Senin, 24 September 2018)
|
Agas
(Culicoides
sp)
|
19
ekor
|
|
3.
|
Mingu III
(Senin, 1 Oktober 2018)
|
Agas
(Culicoides
sp)
|
21
ekor
|
|
4.
|
Minggu IV
(Senin, 8 Oktober 2018)
|
Agas
(Culicoides
sp)
|
12
ekor
|
4.1.2 Methyl
Eugenol
Pengamatan pada perangkap Methyl Eugenol
dilakukan selama empat minggu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada minggu
pertama terdapat 25 ekor Lalat Buah yang terperangkap, pada minggu kedua
terdapat 19 ekor Lalat Buah yang terperangkap, pada minggu ketiga terdapat 8
ekor Lalat Buah yang terperangkap, dan pada minggu keempat terdapat 2 ekor
Lalat Buah yang terperangkap. Data Lalat Buah selama empat minggu disajikan
pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Perangkap Methyl
Eugenol
|
NO
|
WAKTU
|
HAMA
|
JUMLAH
|
|
1.
|
Minggu I
(Senin, 17 September 2018)
|
Lalat buah
(Bactrocera
sp)
|
25
ekor
|
|
2.
|
Minggu II
(Senin, 24 September 2018)
|
Lalat buah
(Bactrocera
sp)
|
19
ekor
|
|
3.
|
Mingu III
(Senin, 1 Oktober 2018)
|
Lalat buah
(Bactrocera
sp)
|
8
ekor
|
|
4.
|
Minggu IV
(Senin, 8 Oktober 2018)
|
Lalat buah
(Bactrocera
sp)
|
2
Ekor
|
4.2 Pembahasan
Organisme pengganggu tanaman atau sering disingkat OPT, merupakan
organisme-organisme yang dapat merusak tanaman baik secara langsung ataupun
tidak langsung. Kerusakan tersebut dapat menimbulkan kerugian baik dari segi
kualitas ataupun kuantitas panen, sehingga merugikan secara ekonomi. OPT yang
akan dibahas pada pengamatan kali ini adalah agas (Culicoides sp) dan lalat buah (Bactrocera
sp).
Agas (Culicoides sp) adalah
serangga yang termasuk dalam ordo Diptera jadi termasuk dalam keluarga lalat,
yang mempunyai sepasang sayap dan ukuran tubuhnya lebih kecil dari nyamuk. Lalat Buah Bactrocera
sp. termasuk ke dalam famili Tephritidae yang merupakan famili dengan jumlah
terbesar dari ordo Diptera. Penelitian tentang fluktuasi hama ini dilakukan
untuk mengetahui keberadaan populasi hama pada suatu lahan semangka.
Pengamatan dilakukan di lahan semangka Dusun Beciro, Desa Jumputrejo,
Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa timur. Cara mengetahui
flutuasi hama agas dan lalat buah di daerah lahan semangka dengan cara memasang
perangkap papan kuning (trap) dan botol (methyl eugenol). Pada papan kuning
(trap), bagian yang berwarna kuning diolesi dengan vaselin perangkap secara
merata sedangkan pada perangkap botol cairan methyl eugenol disuntikkan pada
kapas kemudian dimasukkan ke dalam botol. Interval waktu pengamatan
masing-masing perangkap yaitu 1 minggu dimana pengamatan dilakukan setiap hari
Senin.
Hasil pengamatan pada papan kuning (trap) menunjukkan bahwa pada minggu
pertama sampai minggu ketiga mengalami peningkatan populasi hama. Peningkatan
populasi hama yang sangat terlihat yaitu pada minggu pertama ke minggu kedua.
Peningkatan populasi hama ini dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya
pemasakan buah. Buah yang telah masak (siap dipanen) mengeluarkan aroma wangi
khas buah yang menggoda agas untuk menghampirinya sehingga banyak yang
tertangkap pada perangkap botol. Akan tetapi penurunan populasi hama juga
terjadi yaitu pada minggu ketiga ke minggu keempat. Penurunan populasi hama ini
dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah banyaknya buah yang telah
dipanen di lahan tersebut sehingga buah yang sudah masak tidak ada lagi di
lahan. Buah yang sudah dipanen akan dipindahkan ke tempat yang lebih aman
(gubuk) sehingga agas di lahan tersebut sudah berkurang.
Hasil pengamatan pada perangkap methyl eugenol menunjukkan bahwa pada
setiap minggunya mengalami penurunan. Penurunan yang cukup drastis terlihat
pada minggu kedua ke minggu ketiga. Faktor yang mempengaruhi penurunan lalat
buah ini dipengaruhi beberapa faktor yaitu kurangnya cairan yang digunakan pada
perangkap. Setiap harinya bau dari methyl eugenol akan menghilang sehingga
lalat buah banyak yang tidak masuk dalam perangkap. Selain itu banyak buah yang
sudah dipanen dan dipindahkan ke tempat lain (gubuk). Lalat buah tidak akan
menghampiri lahan apabila inang yang dituju berkurang bahkan tidak ada. Itulah
sebabnya jumlah lalat buah yang terperangkap semakin menurun. Selain itu
banyaknya lubang dalam perangkap yang terlalu banyak sehingga lalat buah kabur
atau lepas.
Serangan dari lalat buah ini dapat meningkat pada daerah yang memiliki
iklim yang sejuk dengan kelembaban relatif tinggi dan kondisi angin yang tidak
terlalu kencang. Curah hujan juga mempengaruhi tingkat serangan dari lalat buah
ini dimana curah hujan yang tinggi menimbulkan pertumbuhan populasi yang tinggi
pula. Gejala serangan lalat buah ini biasanya berupa noda-noda kecil bekas
tusukan pada buah yang menimbulkan bercak coklat dan lubang di sekitar buah.
Banyaknya jamur dan bakteri yang hidup sekitar lubang tersebut makin
mempercepat proses pembusukan buah sehingga buah tersebut gugur sebelum
waktunya.
Musuh alami dari lalat buah terdiri dari tiga kelompok yaitu parasitoid,
predator, dan mikroorganisme patogen. Tahapan hidup dari lalat buah yang paling
rawan diserang oleh musuh alami ini adalah pada saat tahapan instar akhir,
pupa, dan imago yang baru keluar. Telur dan larva instar awal cenderung
terlindungi dari serangan musuh alami karena masih berada dalam buah. Akan tetapi,
ternyata telur dan larva instar awal juga dapat terkena serangan dari
parasitoid, tungau dan mikroorganisme patogen. Sebagian besar larva dan pupa
dari lalat buah ini diserang oleh parasitoid dari ordo Hymenoptera khususnya
famili Braconidae tetapi ada juga serangga lain yang menyerang dari famili
Chalcididae. Predator lalat buah ini biasanya berasal dari ordo
(Hymenoptera:Formicidae) yaitu semut dan serangga dari famili Carabidae dan
Staphinidae (Coleoptera), Chrysopidae (Neuroptera), dan Pentatomidae
(Hemiptera). Mikroorganisme patogen ini terdiri dari jenis bakteri dan jamur
dimana Penicillium dan Seratia dari jenis bakteri dan Mucor dari jenis jamur.
Pengendalian populasi dari lalat buah perusak ini telah banyak dilakukan
dengan menggunakan beberapa metode diantaranya yaitu:
1.
Metode
penghilangan jantan (Male Annihilation Method)
Male Annihilation Method (MAM) nerupakan
suatu metode pengendalian dengan menggunakan metil eugenol (ME) yang
dicampurkan dengan sedikit insektisida. ME komersial yang digunakan dalam
program pengendalian ini termasuk dalam golongan paraferomon (Tan, 1996). MAM
bertujuan untuk menekan populasi lalat buah jantan sehingga probabilitas
terjadinya perkawinan pada lalat buah akan menurun. Penurunan probabilitas
perkawinan pada lalat buah akan berpengaruh terhadap penurunan populasi pada
generasi selanjutnya. Penerapan MAM telah dilakukan di Mauritus untuk
mengendalikan Bactrocera dorsalis (Hendel), di Amerika Selatan untuk
mengendalikan Bactrocera carambolae
Drew& Hancock.
2.
Teknik
Jantan Mandul (Sterile Male Technique)
Sterile Male Technique (SIT) merupakan suatu
bentuk metode pengendalian dengan ”membanjiri” suatu area dengan populasi
serangga jantan yang steril yang kemudaian akan mengawini betina normal.
Perkawinan tersebut diharapkan dapat menghasilkan keturunan atau telur-telur
yang infertil yang selanjutnya diharapkan dapat menurunkan populasi serangga
tersebut (Pedigo,1999). Produksi massal lalat buah yang steril ini dilakukan
pada suatu ’rearing factory’ dimana lalat jantan steril diproduksi secara
massal dengan meradiasi pupa lalat jantan menggunakan 145 gy (14,5 krad) dalam
sumber Co60. Rasio jumlah jantan steril yang dilepaskan ke alam harus lebih
besar dari jantan normal sehingga jantan steril memiliki kesempatan yang lebih
besar untuk bereproduksi dengan betina normal (Pedigo, 1999).
3.
Penggunaan
musuh alami (Kontrol Biologis)
Agen kontrol biologis pada serangga dapat
merupakan parasit, parasitoid, predator, dan mikroorganisme patogen. Penggunaan
musuh alami seperti parasit dan predator dapat mengontrol lalat buah secara
signifikan di alam. Keuntungan melepaskan musuh alami seperti parasitoid secara
masal dibandingkan melepaskan lalat buah jantan steril dapat mengurangi efek
radiasi yang dapat berbahaya.
4.
Bait
Application Technique (BAT)
Aplikasi umpan makanan atau umpan protein
dapat dilakukan untuk mengawasi ataupun mengendalikan lalat buah. Umpan makanan
yang ditempatkan pada suatu perangkap merupakan cara untuk mengawasi populasi
lalat buah dari waktu ke waktu. Umpan protein ini biasa diproduksi atau
dihasilkan dari hasil autolisis atau hidrolisis ragi (yeast hydrolysate)
sebagai sumber protein bagi lalat buah. Penggunaan umpan protein ini cukup
efektif dalam menarik lalat buah jantan dan betina dalam jumlah yang banyak dan
bersifat ramah lingkungan.
Fluktuasi
hama pada suatu daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
fluktuasi hama diantaranya
yaitu:
1.
Pemindahan Tanaman ke Daerah yang Berbeda Iklim
Populasi
hama sifatnya dinamis. Jumlah tersebut bisa naik, bisa turun, atau tetap
seimbang, tergantung keadaan lingkungannya. Bila suatu tanaman dipindahan ke
daerah lain yang berbeda iklim dengan kondisi lingkungan cocok, populasi hama
berembang pesat. Pada suhu optimum, kemampuan hama untuk berkembang biak sangat
besar dan kematian amat sedikit, menyebabkan terjadi peledakan hama. Begitu
juga dengan kelembaban, bila kelembaban sesuai dengan kebutuhan hidup hama,
hama tersebut cenderung tahan terhadap suhu-suhu ekstrem dan menyebabkan
perkembangan telur menjadi lebih cepat. Untuk curah hujan, apabila berlebihan
menimbulkan dampak negatif bagi hama itu sendiri karena dapat menghalangi
perkembangbiakan dan pertumbuhan organisme hama. Selain itu angin juga
berpengaruh terhadap perkembangan hama terutama dalam proses penyebaran hama
tanaman.
2.
Hasil Pemuliaan Tanaman
Dengan
adanya berbagai pengebangan tumbuhan seperti persilangan hingga rekayasa
genetika sebenarnya telah merubah mekanisme ketahanan alami pada tumbuhan itu
sendiri. Tanaman hasil rekayasa genetika cenderung resisten terhadap hama
karena adanya gen-gen yang disisipkan dan memungkinkan tanaman terhindar,
mempunyai daya tahan atau daya sembuh dari serangan serangga dalam kondisi yang
akan menyebabkan kerusakan lebih besar pada tanaman lain dari spesies yang
sama. Tetapi ada pula kondisi dimana tanaman hasil pemuliaan tersebut rentan
terhadap hama yang menyerang dan tidak adanya musuh alami sehingga
perkembangbiakan hama tidak dapat dihentikan dan terjadilah peledakan populasi
hama. Apalagi daya tahan suatu varietas unggul yang berhasil dirakit sampai
sekarang terbatas menghadapi beberapa spesies hama saja.
3.
Berkurangnya Keragaman Genetik
Berkurangnya keragaman genetik pada tanaman
tertentu menyebabkan cara tanam yang cenderung sama setiap waktu (monokultur).
Dengan cara tanam tersebut berakibat tanaman menjadi rentan terhadap serangan
hama dan terjadilah peledakan populasi hama apabila tidak dikendalikan dengan
benar.
4.
Jarak Tanam
Jarak tanam yang tidak teratur memberikan
dampak yang kurang baik terhadap pertumbuhan dan hasil suatu tanaman yang
diproduksi terutama berkaitan dengan hama yang menyerang tanaman tersebut.
Apabila jarak tanaman terlalu rapat mengakibatkan perkembangbiakan dan
perpindahan hama dari satu tanaman ke tanaman yang lain semakin cepat.
5.
Penanaman Terus Menerus
Penanaman
terus-menerus di suatu lahan produksi akan mengakibatkan meledaknya populasi
hama terutama karena makanan untuk hama tersedia sepanjang waktu. Terlebih jika
tanaman tersebut tidak diselingi oleh tanaman lain yang resisten terhadap
serangan hama, maka perkembangbiakan hama menjadi pesat.
6.
Unsur Hara Tanah
Struktur
dan kelembaban tanah berpengaruh besar terhadap kehidupan hama, begitu pula
unsur hara. Apabila dalam suatu tanah berstruktur gembur dengan kandungan bahan
organik tinggi, kelembaban cukup, serta tersedianya unsur hara yang juga
diperlukan bagi hama (khususnya hama yang seluruh atau sebagian hidupnya di
dalam tanah) maka mendukung perkembangbiakan hama dengan pesat dan terjadilah
peledakan populasi hama.
7.
Masa Tanam
Masa
tanam pun perlu diperhatikan dalam melakukan usahatani tetentu, karena apabila
menanam tanpa diatur masa tanam ataupun jangka waktunya, menyebabkan terjadinya
gangguan akibat serangan hama. Serangan hama yang lebih banyak terjadi sewaktu
musim kemarau terjadi pada tanaman kubis.Untuk tanaman padi, masa
tanam pertama cenderung bagus, baik hasil maupun tanaman, sebab pada masa tanam
pertama, tanah yang kering pada musim kemarau, membuat virus penyakit dan hama
tanaman padi mati. Sedangkan untuk masa tanam kedua, tanaman padi tidak sebagus
masa tanam pertama karena kondisi tanah maupun cara pemupukan membuat virus
penyakit kembali berkembang.
8.
Asosiasi Antara Tanaman dan Hama
Asosiasi antara tanaman dan hama dapat
terjadi antara tanaman inang dan hama. Tanaman inang adalah tanaman yang
menjadi makanan dan tempat tinggal organisme hama. Bila tanaman yang disukai
tedapat dalam jumlah banyak, populasi hama meningkat cepat. Sebaliknya bila
makanan kurang populasi hama akan menurun.
9.
Pestisida yang Merubah Fisiologi Tanaman
Pengendalian terhadap hama seringkali
menggunakan pemakaian pestisida yang harus diperhatikan ketepatan dosisnya.
Kelebihan atau kekurangan dosis dapat berakibat merugikan manusia. Bila terjadi
kelebihan dosis, hama atau penyakit memang akan musnah, tetapi tanaman juga
akan musnah. Sedangkan bila kekurangan dosis, akan menyebabkan hama atau
penyakit bertambah kebal dan dan keturunannya pun akan bertambah kebal pula,
sehingga terjadilah peledakan populasi hama apabila penanganannya tidak tepat.
Pestisida juga dapat merubah fisiologi tanaman misalnya ada jenis pestisida
yang merangsang pertumbuhan kuncup dan bunga menyebabkan berkembabiaknya hama
tanaman tertentu.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Gangguan hama dan penyakit pada tanaman
merupakan salah satu kendala yang cukup rumit dalam usaha pertanian. Keberadaan
hama dan penyakit merupakan faktor yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman
dan pembentukan hasil. Serangannya pada tanaman dapat datang secara mendadak
dan dapat bersifat eksplosif (meluas) sehingga dalam waktu yang relatif singkat
seringkali dapat mematikan seluruh tanaman dan menggagalkan panen. Pengamatan
Trap di minggu pertama hingga minggu ke empat mengalami kenaikan jumlah hama di
setiap minggu nya. Sedangkan pengamatan pada Methyl Eugenol mengalami penurunan
jumlah hama di setiap minggunya.
5.2 Saran
Menyiapkan alat dan bahan sangat diperlukan dalam pengamatan
ini agar tidak terjadi kendala pada saat pengamatan dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Artayasa, I.P. 1999. Potensi Parasitoid Dalam Pengendalian Lalat Buah (Bactrocera carambolae) Drew &
Hancock Di Kebun Percobaan Buah- Buahan
Subang, Jawa Barat. Tesis Magister Program Studi Biologi. Pasca Sarjana ITB. Bandung.
Bateman, 1972. The
ecology of fruit flies.17:493-519
Bengtsson, C.,Lapidus, L., Stendahal, C.,Waldenstrom,
J.,2008. Hyperuricemia and risk of cardivascular disease and overal
death. Acta Med Scand., pp: 549-55.
Drew RAI, Hancock DL. (1994). The Bactrocera dorsalis complex of fruit flies (Diptera: Tepritidae: Dacinae) in Asia .Bul of Entomol Res
Supp (2):68.
Djojosumarto, Panut. 2004.Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius, Yogyakarta.
Dadang, 2006, Pengendalian Terpadu Hama Utama dan Potensial Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcasLinn).
Prosiding Workshop yang diselenggarakan
oleh Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi, LPPM,IPB.Bogor.5-6
Desember 2006.
Harianto, 2009. Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember.
Hidayat, A. 2001. Metode
Pengendalian Hama. Deptan. Jakarta.
Putra, N. S. 1997. Hama
Lalat Buah dan Pengendaliannya. Kanisius.Yogyakarta.
Rioardi. 2009. Perlindungan Tanaman Terpadu. Yogyakarta. Kanisius.
White, I.M.and Elson-Harris, M.M. 1992. Fruit flies of economic significance: their identification andbionomics.
CABI, UK & ACIAR, 601 pp.