Minggu, 09 Desember 2018

Pengendalian Hama pada Tanaman

I.              PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Gangguan hama dan penyakit pada tanaman merupakan salah satu kendala yang cukup rumit dalam usaha pertanian. Keberadaan hama dan penyakit merupakan factor yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan pembentukan hasil. Serangannya pada tanaman dapat datang secara mendadak dan dapat bersifat eksplosif (meluas) sehingga dalam waktu yang relative singkat seringkali dapat mematikan seluruh tanaman dan menggagalkan panen.
Pengelolaan hama dan penyakit secara total tidak mungkin dapat dilakukan karena perkembangannya yang sangat cepat dan sulit dikontrol. Namun dengan pengamatan yang baik di lapangan sejak awal penanaman sampai penen, serangan hama dan penyakit dapat ditekan.
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah binatang yang dianggap dapat mengganggu atau merusak tanaman dengan memakan bagian tanaman yang disukainya. Misalnya serangga (insekta), cacing (nematode), binatang menyusui, dan lain-lain. Kerusakan tersebut dapat menimbulkan kerugian baik dari segi kualitas ataupun kuantitas panen, sehingga merugikan secara ekonomi.
Pada pengendalian hama secara biologi, kimiawi, mekanis, dan varietas tahan dapat dilakukan secara terpadu yaitu memadukan cara biologis, kimiawi, mekanis, dan varietas tahan secara berimbang. Pengendalian secara terpadu ini dikenal dengan nama Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Pengendalian Hama Terpadu sangat baik dilakukan karena dapat memberikan dampak positif, baik pengendalian hama dan pathogen maupun terhadap lingkungan. Pengendalian hama dan penyakit secara kimiawi memeang lebih efektif dibandingkan dengan pengendalian secar biologis, mekanis, serta varietas tahan. Tetapi ternyata menimbulkan residu efek terhadap lingkungan, yakni pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan akibat penggunaan bahan kimia tersebut dapat berdampak terhadap unsure-unsur biologis, yaitu musnahnya organism lain yang bukan sasaran, misalnya hewan-hewan predator, hewan-hewan yang dapat membantu penyerbukan.
Konsep pengendalian hama terpadu lebih efektif dan efisien, serta memberikan dampak negative yang sekecil mungkin terhadap lingkungan hidup. Keuntungan lain dari penerapan konsep pengendalian hama terpadu adalah menghemat biaya.

1.2         Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah agar praktikan mengetahui dan memahami fluktuasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) serta melaksanakan metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT) secara tepat.

II.           TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

Organisme pengganggu tanaman atau sering disingkat OPT, merupakan organisme-organisme yang dapat merusak tanaman baik secara langsung ataupun tidak langsung. Kerusakan tersebut dapat menimbulkan kerugian baik dari segi kualitas ataupun kuantitas panen, sehingga merugikan secara ekonomi. Untuk menghindari kerugian karena serangan OPT, tanaman harus dilindungi dengan cara mengendalikan OPT tersebut. Dengan istilah "mengendalikan", OPT tidak harus diberantas habis. Dengan usaha pengendalian populasi atau tingkat kerusakan karena OPT ditekan serendah mungkin sehingga secara ekonomis tidak merugikan (Djojosumarto, 2004).
Hama merupakan suatu organisme yang mengganggu tanaman, merusak tanaman dan menimbulkan kerugian secara ekonomi,membuat produksi suatu tanaman berkurang dan dapat juga menimbulkan kematian pada tanaman,serangga hama mempunyai bagian tubuh yang utama yaitu caput, abdomen ,dan thorax.Serangga hama merupakan organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi.  Hama dari jenis serangga dan penyakit merupakan kendala yang dihadapi oleh setiap para petani yang selalu mengganggu perkembangan tanaman budidaya dan hasil produksi pertanian.  Hama dan penyakit tersebut merusak bagian suatu tanaman, sehingga tanaman akan layu dan bahkan mati (Harianto, 2009).
Hama merupakan semua serangga maupun binatang yang aktifitasnya menimbulkan kerusakan pada tanaman sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu dan berdampak pada kerugian secara ekonomis.Serangga terbagi dalam beberapa ordo sesuai dengan ciri khas masing-masing, diantaranya berdasarkan tipe mulut yang terbagi atas tipe mulut menggigit, mengunyah, menjilat, menusuk, mengisap, menggerek (Rioardi, 2009).
Hama dalam arti luas adalah semua bentuk gangguan baik pada manusia,ternak dan tanaman. Pengertian hama dalam arti sempit yang berkaitan dengan kegiatan budidaya tanaman adalah semua hewan yang merusak tanaman atau hasilnya yang mana aktivitas hidupnya ini dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis. Adanya suatu hewan dalam satu pertanaman sebelum menimbulkan kerugian secara ekonomis maka dalam pengertian ini belum termasuk hama. Namun demikian potensi mereka sebagai hama nantinya perlu dimonitor dalam suatu kegiatan yang disebut pemantauan (monitoring). Secara garis besar hewan yang dapat menjadi hama dapat dari jenis serangga, moluska, tungau, tikus, burung, atau mamalia besar. Mungkin di suatu daerah hewan tersebut menjadi hama, namun di daerah lain belum tentu menjadi hama (Dadang, 2006).

2.2         Agas (Culicoides sp)

Agas adalah serangga yang termasuk dalam ordo Diptera jadi termasuk dalam keluarga lalat, yang mempunyai sepasang sayap dan ukuran tubuhnya lebih kecil dari nyamuk. Sampai saat ini baik gnat maupun “midge” untuk sementara keduanya masih diterjemahkan menjadi agas dalam bahasa Indonesia walaupun sebenarnyaperbedaan antara gnat dan midge sangat prinsip yaitu habitat larvanya. Klasifikasi Agas (biting midges) yaitu:
       Kingdom : Animalia
       Clade       : Euartrhropoda
       Class        : Insecta
       Ordho       : Diptera
       Family      : Ceratopogonidae
       Genus       : Culicoides
Larva gnat hidup di dalam tanah berbentuk larva agas sedangkan larva midge hidup dalam air berbentuk mirip dengan jentik tetapi segmentasi tubuhnya lebih jelas. Kedepannya untuk kejelasan dalam mengkomunikasikan, secara lisan maupun tertulis, midge perlu mempunyai padanan sendiri dalam bahasa Indonesia mengingat cakupan istilah agas terlalu besar. Beberapa hal masih rancu hubungannya dengan agas, misalnya agas dalam famili Sciaridae umumnya disebut agas jamur atau lebih spesifik disebut agas jamur bersayap hitam. Agas jamur bersayap hitam dengan warna badan bervariasi, dari abu-abu sampai hitam dan kombinasi hitam-kuning dan lainnya.
Sciara thomae berbadan hitam dengan garis kuning disisi samping badan dan bersayap hitam. Agas Sciara thomae dewasa hidup selama seminggu dan bertelur 100-150 butir telur dengan masa stadia telur 3-4 hari serta masa stadia larva 8-14 hari. Diantara genus Sciara yang lain yang tersedia informasinya sampai saat ini adalah Sciara analis, merupakan agas dengan badan berwarna kuning pada bagian ventral dan bersayap hitam serta pupanya berwarna kuning.(Brues,1951).
Larva agas pada saat melakukan migrasi bergerak bersama dalam kelompok besar atau sering disebut pada saat bergerak bersama-sama kelihatan seperti rombongan pasukan yang sedang bergerak ke suatu tempat atau kelihatan seperti ular yang terdiri dari gabungan larva-larva atau kelihatan seperti sungai ular dan kenampakan lainnya yang banyak menyebabkan orang merinding. Kemampuan serangga melakukan tindakan berkumpul bersama dalam jumlah besar menunjukkan bahwa serangga itu mempunyai feromon agregasi (Bengtsson, 2008).

2.3         Lalat Buah (Bactrocera sp)

Lalat Buah Bactrocera sp. termasuk ke dalam famili Tephritidae yang merupakan famili dengan jumlah terbesar dari ordo Diptera. Famili ini terdiri dari 4000 spesies yang terbagi dalam 500 genus. Klasifikasi lalat buah (Bacrocera sp) yaitu:
Kingdom         : Animal
Phyllum           : Invertebrata
Class                : Insecta
Ordo                : Diptera
Family             : Tephritidae                            
Genus              : Bactrocera                                  
Species            : Bactrocera carambolae (Drew & Hancock,1994)
Lalat buah Bactrocera sp ini biasa ditemukan pada daerah tropis maupun subtropis dan hidup kosmopolitan hampir di seluruh belahan dunia kecuali Antartika. Lalat buah Bactrocera sp. banyak dijumpai di Indonesia (Jawa, Sumatera, dan Timor), Malaysia, Thailand, dan bagian Asia lainnya seperti Myanmar dan Srilangka. Lalat buah ini juga banyak dijumpai di daerah Guyana, Amerika Selatan dan juga di Daerah Suriname.
Daur hidup lalat buah secara umum bervariasi pada tiap spesies dengan tanaman inang yang berbeda-beda. Daur hidup berbagai spesies lalat buah disajikan oleh White & Elson-Harris (1992) pada Tabel 2.1 di bawah ini:
Tabel 2.1 Daur Hidup berbagai Spesies Lalat Buah (Bactrocera sp)
Spesies Lalat Buah
Daur Hidup (Hari)
Anastrepha fraterculus
36-56
Anastrepha ludens
23-72
Bactrocera cucurbitae
12-31
Bactrocera dorsalis
20-85
Bactrocera oleae
22-28
Bactrocera tyroni
19-40
Ceratitis capitata
14-26
Serangan dari lalat buah ini dapat meningkat pada daerah yang memiliki iklim yang sejuk dengan kelembaban relatif tinggi dan kondisi angin yang tidak terlalu kencang. Curah hujan juga mempengaruhi tingkat serangan dari lalat buah ini dimana curah hujan yang tinggi menimbulkan pertumbuhan populasi yang tinggi pula. Gejala serangan lalat buah ini biasanya berupa noda-noda kecil bekas tusukan pada buah yang menimbulkan bercak coklat dan lubang di sekitar buah. Banyaknya jamur dan bakteri yang hidup sekitar lubang tersebut makin mempercepat proses pembusukan buah sehingga buah tersebut gugur sebelum waktunya (Putra,1997).
Musuh alami dari lalat buah terdiri dari tiga kelompok yaitu parasitoid, predator, dan mikroorganisme patogen. Tahapan hidup dari lalat buah yang paling rawan diserang oleh musuh alami ini adalah pada saat tahapan instar akhir, pupa, dan imago yang baru keluar. Telur dan larva instar awal cenderung terlindungi dari serangan musuh alami karena masih berada dalam buah. Akan tetapi, ternyata telur dan larva instar awal juga dapat terkena serangan dari parasitoid, tungau dan mikroorganisme patogen (Artayasa,1999). Sebagian besar larva dan pupa dari lalat buah ini diserang oleh parasitoid dari ordo Hymenoptera khususnya famili Braconidae tetapi ada juga serangga lain yang menyerang dari famili Chalcididae. Predator lalat buah ini biasanya berasal dari ordo (Hymenoptera:Formicidae) yaitu semut dan serangga dari famili Carabidae dan Staphinidae (Coleoptera), Chrysopidae (Neuroptera), dan Pentatomidae (Hemiptera). Mikroorganisme patogen ini terdiri dari jenis bakteri dan jamur dimana Penicillium dan Seratia dari jenis bakteri dan Mucor dari jenis jamur (Bateman, 1972).

2.4         Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah suatu cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efesiensiekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan. PHT merupakan perpaduan beberapa teknik pengendalian hama yang dalam penerapannya harus memperhitungkan dampaknya baik secara ekologi, ekonomi maupun sosiologi sehingga secara keseluruhan diperoleh hasil yang terbaik (Hidayat, 2001).
Falsafah pengendalian hama yang harus digunakan adalah Pengendalian hama Terpadu (PHT) yang dalam implementasinya tidak hanya mengandalkan satu taktik pengendalian saja. Taktik pengendalian yang akan diuraikan antara lain :
2.4.1   Pengendalian Mekanik
Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual. Mengambil hama yang sedang menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibatkan tenaga manusia telah banyak dilakukan oleh banyak negara pada permulaan abad ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang masih banyak dilakukan di daerah-daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif murah.
Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di Australia adalah mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang menyerang tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa sp. Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke sawah untuk mengambil dan mengumpulkan ulat-ulat yang berada di pucuk tembakau. Ulat yang telah terkumpul itu kemudian dibakar atau dimusnahkan.
2.4.2   Pengendalian Fisik
Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.Bahan-bahan simpanan sering diperlakukan dengan pemanasan (pengeringan) atau pendinginan. Cara ini dimaksudkan untuk membunuh atau menurunkan populasi hama sehingga dapat mencegah terjadinya peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di tempat yang kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati lemas oleh karena CO2 dan nitrogen.
Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik;karena cara-cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga. Untuk mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan penggenangan karena tanah yang mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari partikel tanah. Dengan hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda tidak dapat hidup lebih lama.
2.4.3   Pengendalian Hayati
Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau mempunyai sejumlah musuh-musuh alami. Tersedianya banyak makanan dan tidak adanya agen-agen pengendali alami akan menyebabkan meningkatnya populasi hama. Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak tepat sehingga dapat membunuh musuh-musuh alaminya. Sebagai contoh, meningkatnya populasi tunggau di Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan DDT.
2.4.4   Pengendalian Secara Kultur Teknik (Cultural Control)
Pada prinsipnya yang termasuk dalam pengendalian secara kultur teknik adalah cara-cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk menekan perkembangan populasi hama.


III.        METODE PRAKTIKUM

3.1         Waktu dan Tempat

Praktikum Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu tentang Fluktuasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dilakukan pada Rabu, 12 September 2018 pukul 15.20-17.00 WIB sampai dengan Rabu, 10 September 2018 pukul 15.20-17.00 WIB di Laboratorium Kesehatan Tanaman I Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3.2         Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu papan kuning (trap), botol bekas, suntik, tali rafia, kantong plastik, kertas, pena, mikroskop, dan kaca pembesar.

3.3         Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu methyl eugenol, vaselin (perangkap), kapas, dan air.

3.4         Cara Kerja

3.4.1   Trap Kuning

Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan di lapang seperti papan kuning (trap), kertas, pena, dan vaselin (perangkap). Papan kuning (trap) di pasang di lahan yang akan diamati dengan cara menancapkan papan pada tanah di lahan tersebut. Mengoleskan vaselin (perangkap) pada papan trap yang berwarna kuning secara merata. Papan kuning (trap) diamati dengan interval waktu 1 minggu. Hal yang diamati pada minggu pertama adalah berapa banyak organisme yang terperangkap di trap ini. Jika terdapat organisme yang populasinya lebih banyak daripada organisme yang lain maka organisme yang lebih banyak tersebut diamati fluktuasinya selama 4 minggu. Mencatat jumlah organisme yang diamati pada hasil pengamatan dan mengulasnya pada pembahasan.

3.4.2   Methyl Eugenol

Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan di lapang seperti botol bekas, suntik, tali rafia, kantong plastik, kertas, pena, kapas, air, dan methyl eugenol. Botol bekas dilubangi pada sisi yang berbeda atau berlawanan (jangan terlalu banyak lubang yang dibuat, kurang lebih 4-6 lubang saja). Mengisi botol dengan air kurang lebih ¼ bagian dari botol. Mengikat kapas dengan tali rafi kemudian dimasukkan ke dalam botol dan disesuaikan panjang talinya (diusahakan kapas tidak mengenai air, bahkan sampai terendam air). Menyuntikkan cairan methyl pada kapas secara merata pada setiap sisinya. Trap methyl eugenol diamati dengan interval waktu 1 minggu. Hal yang diamati pada minggu pertama adalah berapa banyak organisme yang terperangkap di trap ini. Jika terdapat organisme yang populasinya lebih banyak daripada organisme yang lain maka organisme yang lebih banyak tersebut diamati fluktuasinya selama 4 minggu. Mencatat jumlah organisme yang diamati pada hasil pengamatan dan mengulasnya pada pembahasan.



IV.        HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1         Hasil Pengamatan

4.1.1   Trap Kuning
Pengamatan pada Trap kuning dilakukan selama empat minggu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada minggu pertama terdapat 6 ekor Agas yang terperangkap, pada minggu kedua terdapat 19 ekor Agas yang terperangkap, pada minggu ketiga terdapat 21 ekor Agas yang terperangkap, dan pada minggu keempat terdapat 12 ekor Agas yang terperangkap. Data Agas selama empat minggu disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Trap Kuning
NO
WAKTU
HAMA
JUMLAH
1.
Minggu I
(Senin, 17 September 2018)
Agas
(Culicoides sp)
6
ekor
2.
Minggu II
(Senin, 24 September 2018)
Agas
(Culicoides sp)
19
ekor
3.
Mingu III
(Senin, 1 Oktober 2018)
Agas
(Culicoides sp)
21
ekor
4.
Minggu IV
(Senin, 8 Oktober 2018)
Agas
(Culicoides sp)
12
ekor
4.1.2   Methyl Eugenol
Pengamatan pada perangkap Methyl Eugenol dilakukan selama empat minggu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada minggu pertama terdapat 25 ekor Lalat Buah yang terperangkap, pada minggu kedua terdapat 19 ekor Lalat Buah yang terperangkap, pada minggu ketiga terdapat 8 ekor Lalat Buah yang terperangkap, dan pada minggu keempat terdapat 2 ekor Lalat Buah yang terperangkap. Data Lalat Buah selama empat minggu disajikan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Perangkap Methyl Eugenol
NO
WAKTU
HAMA
JUMLAH
1.
Minggu I
(Senin, 17 September 2018)
Lalat buah
(Bactrocera sp)
25
ekor
2.
Minggu II
(Senin, 24 September 2018)
Lalat buah
(Bactrocera sp)
19
ekor
3.
Mingu III
(Senin, 1 Oktober 2018)
Lalat buah
(Bactrocera sp)
8
ekor
4.
Minggu IV
(Senin, 8 Oktober 2018)
Lalat buah
(Bactrocera sp)
2
Ekor

4.2         Pembahasan

Organisme pengganggu tanaman atau sering disingkat OPT, merupakan organisme-organisme yang dapat merusak tanaman baik secara langsung ataupun tidak langsung. Kerusakan tersebut dapat menimbulkan kerugian baik dari segi kualitas ataupun kuantitas panen, sehingga merugikan secara ekonomi. OPT yang akan dibahas pada pengamatan kali ini adalah agas (Culicoides sp) dan lalat buah (Bactrocera sp).
Agas (Culicoides sp) adalah serangga yang termasuk dalam ordo Diptera jadi termasuk dalam keluarga lalat, yang mempunyai sepasang sayap dan ukuran tubuhnya lebih kecil dari nyamuk. Lalat Buah Bactrocera sp. termasuk ke dalam famili Tephritidae yang merupakan famili dengan jumlah terbesar dari ordo Diptera. Penelitian tentang fluktuasi hama ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan populasi hama pada suatu lahan semangka.
Pengamatan dilakukan di lahan semangka Dusun Beciro, Desa Jumputrejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa timur. Cara mengetahui flutuasi hama agas dan lalat buah di daerah lahan semangka dengan cara memasang perangkap papan kuning (trap) dan botol (methyl eugenol). Pada papan kuning (trap), bagian yang berwarna kuning diolesi dengan vaselin perangkap secara merata sedangkan pada perangkap botol cairan methyl eugenol disuntikkan pada kapas kemudian dimasukkan ke dalam botol. Interval waktu pengamatan masing-masing perangkap yaitu 1 minggu dimana pengamatan dilakukan setiap hari Senin.
Hasil pengamatan pada papan kuning (trap) menunjukkan bahwa pada minggu pertama sampai minggu ketiga mengalami peningkatan populasi hama. Peningkatan populasi hama yang sangat terlihat yaitu pada minggu pertama ke minggu kedua. Peningkatan populasi hama ini dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya pemasakan buah. Buah yang telah masak (siap dipanen) mengeluarkan aroma wangi khas buah yang menggoda agas untuk menghampirinya sehingga banyak yang tertangkap pada perangkap botol. Akan tetapi penurunan populasi hama juga terjadi yaitu pada minggu ketiga ke minggu keempat. Penurunan populasi hama ini dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah banyaknya buah yang telah dipanen di lahan tersebut sehingga buah yang sudah masak tidak ada lagi di lahan. Buah yang sudah dipanen akan dipindahkan ke tempat yang lebih aman (gubuk) sehingga agas di lahan tersebut sudah berkurang.
Hasil pengamatan pada perangkap methyl eugenol menunjukkan bahwa pada setiap minggunya mengalami penurunan. Penurunan yang cukup drastis terlihat pada minggu kedua ke minggu ketiga. Faktor yang mempengaruhi penurunan lalat buah ini dipengaruhi beberapa faktor yaitu kurangnya cairan yang digunakan pada perangkap. Setiap harinya bau dari methyl eugenol akan menghilang sehingga lalat buah banyak yang tidak masuk dalam perangkap. Selain itu banyak buah yang sudah dipanen dan dipindahkan ke tempat lain (gubuk). Lalat buah tidak akan menghampiri lahan apabila inang yang dituju berkurang bahkan tidak ada. Itulah sebabnya jumlah lalat buah yang terperangkap semakin menurun. Selain itu banyaknya lubang dalam perangkap yang terlalu banyak sehingga lalat buah kabur atau lepas.
Serangan dari lalat buah ini dapat meningkat pada daerah yang memiliki iklim yang sejuk dengan kelembaban relatif tinggi dan kondisi angin yang tidak terlalu kencang. Curah hujan juga mempengaruhi tingkat serangan dari lalat buah ini dimana curah hujan yang tinggi menimbulkan pertumbuhan populasi yang tinggi pula. Gejala serangan lalat buah ini biasanya berupa noda-noda kecil bekas tusukan pada buah yang menimbulkan bercak coklat dan lubang di sekitar buah. Banyaknya jamur dan bakteri yang hidup sekitar lubang tersebut makin mempercepat proses pembusukan buah sehingga buah tersebut gugur sebelum waktunya.
Musuh alami dari lalat buah terdiri dari tiga kelompok yaitu parasitoid, predator, dan mikroorganisme patogen. Tahapan hidup dari lalat buah yang paling rawan diserang oleh musuh alami ini adalah pada saat tahapan instar akhir, pupa, dan imago yang baru keluar. Telur dan larva instar awal cenderung terlindungi dari serangan musuh alami karena masih berada dalam buah. Akan tetapi, ternyata telur dan larva instar awal juga dapat terkena serangan dari parasitoid, tungau dan mikroorganisme patogen. Sebagian besar larva dan pupa dari lalat buah ini diserang oleh parasitoid dari ordo Hymenoptera khususnya famili Braconidae tetapi ada juga serangga lain yang menyerang dari famili Chalcididae. Predator lalat buah ini biasanya berasal dari ordo (Hymenoptera:Formicidae) yaitu semut dan serangga dari famili Carabidae dan Staphinidae (Coleoptera), Chrysopidae (Neuroptera), dan Pentatomidae (Hemiptera). Mikroorganisme patogen ini terdiri dari jenis bakteri dan jamur dimana Penicillium dan Seratia dari jenis bakteri dan Mucor dari jenis jamur.
Pengendalian populasi dari lalat buah perusak ini telah banyak dilakukan dengan menggunakan beberapa metode diantaranya yaitu:
1.    Metode penghilangan jantan (Male Annihilation Method)
Male Annihilation Method (MAM) nerupakan suatu metode pengendalian dengan menggunakan metil eugenol (ME) yang dicampurkan dengan sedikit insektisida. ME komersial yang digunakan dalam program pengendalian ini termasuk dalam golongan paraferomon (Tan, 1996). MAM bertujuan untuk menekan populasi lalat buah jantan sehingga probabilitas terjadinya perkawinan pada lalat buah akan menurun. Penurunan probabilitas perkawinan pada lalat buah akan berpengaruh terhadap penurunan populasi pada generasi selanjutnya. Penerapan MAM telah dilakukan di Mauritus untuk mengendalikan Bactrocera dorsalis (Hendel), di Amerika Selatan untuk mengendalikan Bactrocera carambolae Drew& Hancock.
2.    Teknik Jantan Mandul (Sterile Male Technique)
Sterile Male Technique (SIT) merupakan suatu bentuk metode pengendalian dengan ”membanjiri” suatu area dengan populasi serangga jantan yang steril yang kemudaian akan mengawini betina normal. Perkawinan tersebut diharapkan dapat menghasilkan keturunan atau telur-telur yang infertil yang selanjutnya diharapkan dapat menurunkan populasi serangga tersebut (Pedigo,1999). Produksi massal lalat buah yang steril ini dilakukan pada suatu ’rearing factory’ dimana lalat jantan steril diproduksi secara massal dengan meradiasi pupa lalat jantan menggunakan 145 gy (14,5 krad) dalam sumber Co60. Rasio jumlah jantan steril yang dilepaskan ke alam harus lebih besar dari jantan normal sehingga jantan steril memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bereproduksi dengan betina normal (Pedigo, 1999).
3.    Penggunaan musuh alami (Kontrol Biologis)
Agen kontrol biologis pada serangga dapat merupakan parasit, parasitoid, predator, dan mikroorganisme patogen. Penggunaan musuh alami seperti parasit dan predator dapat mengontrol lalat buah secara signifikan di alam. Keuntungan melepaskan musuh alami seperti parasitoid secara masal dibandingkan melepaskan lalat buah jantan steril dapat mengurangi efek radiasi yang dapat berbahaya.
4.    Bait Application Technique (BAT)
Aplikasi umpan makanan atau umpan protein dapat dilakukan untuk mengawasi ataupun mengendalikan lalat buah. Umpan makanan yang ditempatkan pada suatu perangkap merupakan cara untuk mengawasi populasi lalat buah dari waktu ke waktu. Umpan protein ini biasa diproduksi atau dihasilkan dari hasil autolisis atau hidrolisis ragi (yeast hydrolysate) sebagai sumber protein bagi lalat buah. Penggunaan umpan protein ini cukup efektif dalam menarik lalat buah jantan dan betina dalam jumlah yang banyak dan bersifat ramah lingkungan.
Fluktuasi hama pada suatu daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi fluktuasi hama diantaranya yaitu:
1.    Pemindahan Tanaman ke Daerah yang Berbeda Iklim
     Populasi hama sifatnya dinamis. Jumlah tersebut bisa naik, bisa turun, atau tetap seimbang, tergantung keadaan lingkungannya. Bila suatu tanaman dipindahan ke daerah lain yang berbeda iklim dengan kondisi lingkungan cocok, populasi hama berembang pesat. Pada suhu optimum, kemampuan hama untuk berkembang biak sangat besar dan kematian amat sedikit, menyebabkan terjadi peledakan hama. Begitu juga dengan kelembaban, bila kelembaban sesuai dengan kebutuhan hidup hama, hama tersebut cenderung tahan terhadap suhu-suhu ekstrem dan menyebabkan perkembangan telur menjadi lebih cepat. Untuk curah hujan, apabila berlebihan menimbulkan dampak negatif bagi hama itu sendiri karena dapat menghalangi perkembangbiakan dan pertumbuhan organisme hama. Selain itu angin juga berpengaruh terhadap perkembangan hama terutama dalam proses penyebaran hama tanaman.
2.    Hasil Pemuliaan Tanaman
     Dengan adanya berbagai pengebangan tumbuhan seperti persilangan hingga rekayasa genetika sebenarnya telah merubah mekanisme ketahanan alami pada tumbuhan itu sendiri. Tanaman hasil rekayasa genetika cenderung resisten terhadap hama karena adanya gen-gen yang disisipkan dan memungkinkan tanaman terhindar, mempunyai daya tahan atau daya sembuh dari serangan serangga dalam kondisi yang akan menyebabkan kerusakan lebih besar pada tanaman lain dari spesies yang sama. Tetapi ada pula kondisi dimana tanaman hasil pemuliaan tersebut rentan terhadap hama yang menyerang dan tidak adanya musuh alami sehingga perkembangbiakan hama tidak dapat dihentikan dan terjadilah peledakan populasi hama. Apalagi daya tahan suatu varietas unggul yang berhasil dirakit sampai sekarang terbatas menghadapi beberapa spesies hama saja.
3.    Berkurangnya Keragaman Genetik
Berkurangnya keragaman genetik pada tanaman tertentu menyebabkan cara tanam yang cenderung sama setiap waktu (monokultur). Dengan cara tanam tersebut berakibat tanaman menjadi rentan terhadap serangan hama dan terjadilah peledakan populasi hama apabila tidak dikendalikan dengan benar.
4.    Jarak Tanam
     Jarak tanam yang tidak teratur memberikan dampak yang kurang baik terhadap pertumbuhan dan hasil suatu tanaman yang diproduksi terutama berkaitan dengan hama yang menyerang tanaman tersebut. Apabila jarak tanaman terlalu rapat mengakibatkan perkembangbiakan dan perpindahan hama dari satu tanaman ke tanaman yang lain semakin cepat.
5.    Penanaman Terus Menerus
     Penanaman terus-menerus di suatu lahan produksi akan mengakibatkan meledaknya populasi hama terutama karena makanan untuk hama tersedia sepanjang waktu. Terlebih jika tanaman tersebut tidak diselingi oleh tanaman lain yang resisten terhadap serangan hama, maka perkembangbiakan hama menjadi pesat.
6.    Unsur Hara Tanah
     Struktur dan kelembaban tanah berpengaruh besar terhadap kehidupan hama, begitu pula unsur hara. Apabila dalam suatu tanah berstruktur gembur dengan kandungan bahan organik tinggi, kelembaban cukup, serta tersedianya unsur hara yang juga diperlukan bagi hama (khususnya hama yang seluruh atau sebagian hidupnya di dalam tanah) maka mendukung perkembangbiakan hama dengan pesat dan terjadilah peledakan populasi hama.
7.    Masa Tanam
     Masa tanam pun perlu diperhatikan dalam melakukan usahatani tetentu, karena apabila menanam tanpa diatur masa tanam ataupun jangka waktunya, menyebabkan terjadinya gangguan akibat serangan hama. Serangan hama yang lebih banyak terjadi sewaktu musim kemarau terjadi pada tanaman kubis.Untuk tanaman padi, masa tanam pertama cenderung bagus, baik hasil maupun tanaman, sebab pada masa tanam pertama, tanah yang kering pada musim kemarau, membuat virus penyakit dan hama tanaman padi mati. Sedangkan untuk masa tanam kedua, tanaman padi tidak sebagus masa tanam pertama karena kondisi tanah maupun cara pemupukan membuat virus penyakit kembali berkembang.
8.    Asosiasi Antara Tanaman dan Hama
     Asosiasi antara tanaman dan hama dapat terjadi antara tanaman inang dan hama. Tanaman inang adalah tanaman yang menjadi makanan dan tempat tinggal organisme hama. Bila tanaman yang disukai tedapat dalam jumlah banyak, populasi hama meningkat cepat. Sebaliknya bila makanan kurang populasi hama akan menurun.
9.    Pestisida yang Merubah Fisiologi Tanaman
     Pengendalian terhadap hama seringkali menggunakan pemakaian pestisida yang harus diperhatikan ketepatan dosisnya. Kelebihan atau kekurangan dosis dapat berakibat merugikan manusia. Bila terjadi kelebihan dosis, hama atau penyakit memang akan musnah, tetapi tanaman juga akan musnah. Sedangkan bila kekurangan dosis, akan menyebabkan hama atau penyakit bertambah kebal dan dan keturunannya pun akan bertambah kebal pula, sehingga terjadilah peledakan populasi hama apabila penanganannya tidak tepat. Pestisida juga dapat merubah fisiologi tanaman misalnya ada jenis pestisida yang merangsang pertumbuhan kuncup dan bunga menyebabkan berkembabiaknya hama tanaman tertentu.


V.           PENUTUP

5.1         Kesimpulan

Gangguan hama dan penyakit pada tanaman merupakan salah satu kendala yang cukup rumit dalam usaha pertanian. Keberadaan hama dan penyakit merupakan faktor yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan pembentukan hasil. Serangannya pada tanaman dapat datang secara mendadak dan dapat bersifat eksplosif (meluas) sehingga dalam waktu yang relatif singkat seringkali dapat mematikan seluruh tanaman dan menggagalkan panen. Pengamatan Trap di minggu pertama hingga minggu ke empat mengalami kenaikan jumlah hama di setiap minggu nya. Sedangkan pengamatan pada Methyl Eugenol mengalami penurunan jumlah hama di setiap minggunya.

5.2         Saran

            Menyiapkan alat dan bahan sangat diperlukan dalam pengamatan ini agar tidak terjadi kendala pada saat pengamatan dilakukan.


DAFTAR PUSTAKA

Artayasa, I.P. 1999. Potensi Parasitoid Dalam Pengendalian Lalat Buah    (Bactrocera carambolae) Drew & Hancock Di Kebun Percobaan Buah- Buahan Subang, Jawa Barat. Tesis Magister Program Studi Biologi. Pasca             Sarjana ITB. Bandung.
Bateman, 1972. The ecology of fruit flies.17:493-519
Bengtsson, C.,Lapidus, L., Stendahal, C.,Waldenstrom, J.,2008. Hyperuricemia    and risk of cardivascular disease and overal death. Acta Med Scand., pp:        549-55.
Drew RAI, Hancock DL. (1994). The Bactrocera dorsalis complex of fruit flies      (Diptera: Tepritidae: Dacinae) in Asia .Bul of Entomol Res Supp (2):68.
Djojosumarto, Panut. 2004.Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius,   Yogyakarta.
Dadang, 2006, Pengendalian Terpadu Hama Utama dan Potensial Tanaman         Jarak Pagar (Jatropha curcasLinn). Prosiding Workshop yang          diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi,             LPPM,IPB.Bogor.5-6 Desember 2006.
Harianto, 2009. Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember.
Hidayat, A. 2001. Metode Pengendalian Hama. Deptan. Jakarta.
Putra, N. S. 1997. Hama Lalat Buah dan Pengendaliannya. Kanisius.Yogyakarta.
Rioardi. 2009. Perlindungan Tanaman Terpadu. Yogyakarta. Kanisius.
White, I.M.and Elson-Harris, M.M. 1992. Fruit flies of economic significance:        their identification andbionomics. CABI, UK & ACIAR, 601 pp.